Welcome to ScVolution

Friday, 6 September 2013

Chapter 2: Tanpa Jawaban

Semua murid menoleh, ternyata kalimat tersebut terlontar dari bibir seorang gadis yang sedang duduk melamun sambil memainkan pulpennya.
"Kok lu ngomong gitu, Gis?" tanya Audi.
"Hmm?" ia tersadar dari lamunannya, "Ga tau, keluar begitu aja dari mulut gw."
Tepat sesaat setelah itu, pintu kelas terbuka. Kali ini, Pak Aryos berdiri di depan pintu.
"Ehmm..," gumamnya sambil sepertinya memikirkan cara menyampaikan kabar buruk ini kepada anak-anak muridnya, "Kalian semua ke aula dulu sebentar ya."
"Tumben, Pak. Ada apaan?" tanya Devin sok polos sambil mencoba memancing pembicaraan.
"Ya.. Ke atas dulu aja, nanti juga tau, yah?" jawabnya tanpa memasang ekspresi apapun.
Rombongan IPA merupakan rombongan yang terakhir sampai ke aula, kemudian disusul Bu Neng dan Pak Aryos. Aula tampak cukup lenggang karena hanya ada 3 kelas yang berada di ruangan ini. Beberapa murid tampak berdiskusi, berpendapat bahwa tujuan mereka dikumpulkan di aula adalah karena ada pemberitahuan terbaru mengenai Ujian Nasional. Namun kebanyakan dari mereka bercanda dan tertawa, mungkin senang karena bisa terbebas dari kejenuhan di ruang kelas. Hanya para penghuni kelas IPA yang tampak diam, sesekali berbisik, namun tak ada satu pun senyum terukir di wajah mereka. Tentu saja setelah obrolan dalam kelas, serta setelah mendengar pernyataan Mimi, mereka sibuk menyimpulkan dalam hati tentang apa yang mungkin terjadi di luar sana. Satu yang mereka yakini, apapun yang akan disampaikan para guru di aula ini bukanlah perihal Ujian Nasional, apalagi perihal besok libur dan pulang cepat.
Setelah sebelumnya tampak berdiskusi dengan Bu Neng di pojok ruangan, Pak Aryos kini melangkah menaiki panggung aula. Ia berdiri sebentar di sana sambil melipat tangan di depan dada, kepalanya menunduk dan matanya terpejam. Melihat ini, para murid perlahan terdiam, meskipun tidak sedikit yang masih mengobrol sambil tertawa kecil.
"Anak-anak.. Jadi tadi saya dapet kabar bahwa..," ia berhenti sebentar, menggigit bibir bawahnya sambil menghembuskan nafas seakan ada beban yang teramat berat di bahunya. Kemudian ia melanjutkan, "Saya dapet kabar bahwa ada sesuatu yang terjadi di luar sana."
Beberapa murid menunjukan ekspresi kaget, walaupun banyak juga yang masih santai-santai saja seakan itu bukan hal yang berarti. "Saya tidak tau pasti apa yang terjadi. Yang saya tau bahwa ada kekacauan yang terjadi di luar sana dan tidak memungkinkan kita untuk keluar dari sekolah ini," katanya lagi, "Jadi saya dan guru-guru yang ada memutuskan bahwa kalian akan tetap tinggal di sekolah ini, sampai keadaan aman."
Kemudian seorang murid melemparkan pertanyaan, "Maksud Bapak nginep?"
"Kalau memang itu yang diperlukan, iya," jawabnya singkat.
Mendengar itu sekelompok murid lelaki tertawa-tawa kecil. Melihat hal tersebut, Pak Aryos langsung berkata setengah berteriak, "Loh saya serius loh de! Kalian jangan menganggap ini sebagai lelucon atau semacemnya! Kalau kalian pikir saya bercanda, tidak, saya sedang tidak bercanda!" Matanya masih tertuju pada sekelompok murid lelaki yang tadi tertawa, "Saya tanya, apa yang membuat kalian tertawa? Kalian pikir kalian akan seru-seruan dengan nginep disini? Kalau itu yang kalian pikirkan, kalian salah besar!"
Aula hening total. Teriakan guru tersebut menggema memenuhi ruangan.
Pak Aryos kemudian berbalik berkata kepada seluruh murid di aula itu, "Kalian tuh masih ga ngerti yah?" tanyanya tanpa senyum sedikit pun di wajahnya. Ia kemudian duduk di pinggiran panggung, seakan kakinya tak sanggup lagi menahannya berdiri. Ia membenamkan wajahnya di balik telapak tangannya sebelum berkata, "Gini loh, kalian harus paham bahwa ada sesuatu yang terjadi di luar sana yang tidak bisa kalian anggap sepele. Ngga, saya sedang tidak bercanda, saya sangat serius dan saya mengakui bahwa sesuatu sedang terjadi di luar sekolah ini pada saat ini juga," ia memberikan penekanan pada tiap kata yang ia ucapkan.
"Saya tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi, karena sejujurnya saya juga tidak mengerti. Yang saya tau adalah..., " ia berkata perlahan, "Banyak yang tewas."
Kengerian tampak di wajah para murid, tak terkecuali para murid IPA yang padahal sebelumnya telah mempersiapkan hati untuk mendengar kemungkinan terburuk.
Ia melanjutkan, "Karena itu saya dan guru-guru yang ada sudah sepakat untuk menjaga kalian tetap tinggal di sekolah. Saya tidak bisa bilang sampai kapan, yang pasti sampai keadaan di luar terbilang aman. Saya hanya minta kalian untuk tetap tenang dan tidak panik, karena selama kalian masih berada di dalam sekolah ini, kalian aman. Saya tau kalian pasti mencemaskan keadaan orang tua dan keluarga kalian, tapi ya kita pun ga bisa melakukan apa-apa terhadap itu karena kita sendiri bisa dibilang terjebak."
Ia berhenti berbicara selama beberapa saat kemudian berkata lagi, "Jadi saya minta supaya kalian menganggap ini dengan serius, karena ini menyangkut nyawa kalian semua. Nanti kalian bisa ambil hape dan coba menghubungi orang tua kalian, jelasin keadaan yang terjadi bahwa kalian terpaksa tinggal di sini sementara. Saya yakin mereka pasti ngerti dan ingin kalian baik-baik aja." 
Ia bangkit berdiri dari posisi duduknya kemudian berkata, "Itu aja yang mau saya sampaikan. Sekali lagi saya minta kalian tetap tenang dan tidak panik," kemudian ia menambahkan, "Tuhan memberkati kita semua."

*****

Kantor penuh dengan para murid yang berdesakan ingin mengambil handphone. Mereka yang telah berhasil mengambil handphonenya segera sibuk memencet-mencet tombol. Beberapa murid perempuan menangis terisak, beberapa lagi hanya berlinang air mata. Bahkan seorang murid bernama Dila, yang biasanya hanya menangis ketika ada konser dan saat rumahnya kebanjiran, kini menangis. Keadaan yang terjadi saat itu bisa dikatakan sebagai rasa takut, panik, cemas, gelisah dan galau tingkat ga bisa move on.
Sudah 1 jam berlalu, para murid terlihat duduk-duduk di sekitar kelas. Tampak ekspresi tanpa harapan di wajah mereka, beberapa masih menangis, sebagian besar sudah berhenti menangis tetapi masih menyimpan kecemasan di mata mereka. Hampir sebagian besar murid tidak dapat menghubungi keluarga atau pun sanak saudara mereka. Entah mengapa setiap kali mereka menelepon, selalu tersambung dengan nada sibuk. Ada juga yang telah tersambung, namun telepon tak kunjung diangkat. Ada pula yang tidak bisa menelepon, karena tidak punya pulsa. Kasian.
Bisa dibayangkan apa yang sekarang berkecamuk di dalam pikiran para murid: keluarga, rumah, PR kimia. Para murid kini hanya duduk-duduk tanpa berbicara satu sama lain, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Jessica, yang sedari tadi duduk melamun di anak tangga, memutuskan untuk berdiri dan memasuki kelas. Di kelas ada sekitar selusin anak, salah satunya adalah Velin yang sedang duduk sendiri, Jessi pun memutuskan untuk duduk di sebelahnya.
"Gimana Velin? Lu udah bisa telepon mama papa lu?" tanya Jessi.
"Udah, Jes," jawab Velin, "Lu sendiri?"
"Ga bisa, nada sibuk terus. Lu termasuk orang yang beruntung bisa telepon keluarga lu. Mereka baik-baik aja?" tanya Jessi lagi.
"Iya," jawab Velin singkat, kemudian lanjut berbicara dengan sangat cepat, kecepatannya 120 km/jam, "Tadinya juga gw telepon nada sibuk terus, Jes. Gw coba-coba terus, eh akhirnya diangkat. Mama papa gw untungnya aman kok, mereka juga ga tau ada kejadian apa, mereka taunya ada kerusuhan anak-anak SMA gitu trus banyak korban. Tadi juga gw udah kabarin mereka kalo gw bakal diem di sekolah ini sampe keadaannya bener-bener aman."
Jessi terdiam, tidak tau apa yang harus ia katakan. Dari sudut matanya, Jessi melihat Priscil menyembunyikan wajah dibalik tangannya, ia menangis, sambil sesekali menyedot ingus yang kental dan berwarna hijau kekuningan, jika Celine membaca ini, ia tentu sudah hoek hoek. Jessi pun bertanya pada Velin, "Si Priscil nangis dari tadi, Velin?"
"Iya, ga berenti-berenti, Jes. Gw mau samperin, ga enak, nunggu dia tenang dulu," jawab Velin.
"Ehm yaudah, gw mau coba samperin dia ya," kata Jessi kepada Velin, lalu Jessi pergi menuju meja Priscil. 
"Vian, Priscil kenapa?" tanya Jessi kepada Vivian yang sedang duduk di samping Priscil sambil menenangkannya.
"Dia ga bisa nelpon keluarganya, Jes. Dia bilang dia takut keluarganya kenapa-napa," jawab Vian.
"Iya, emang sebagian besar pada ga bisa ngehubungin keluarganya, termasuk gw," kata Jessi, "Lu bisa ga, Vian?"
"Untungnya gw bisa, Jess," jawab Vian.
"Oh iya? Trus keluarga lu gimana?" tanya Jessi sambil mengggaruk pantatnya.
"Mama papa gw ada di Bayukarta, Jes. Mereka lagi ngerawat korban-korban yang luka. Bayukarta rame, Jes, banyak yang ngungsi ke situ," kata Vian menjelaskan.
"Jadi maksud lu tuh Bayukarta kayak dijadiin semacem benteng, gitu? Tempat perlindungan?" tanya Jessi sambil menggaruk pantatnya lagi.
"Bisa dibilang begitu sih soalnya kata mama gw di sana ada banyak makanan sama obat-obatan," kata Vian.
Jessi mengalihkan pandangannya ke arah Priscil, lalu menenangkannya. Setelah beberapa saat ditenangkan dan diberi kata-kata motivasi ala Mario Teguh oleh Jessi, Priscil pun berhenti menangis. Salam super!
Mendadak pintu kelas terbuka, beberapa anak masuk ke kelas sambil berbincang-bincang. "Serius, Pin. Orang tadi gw ke bawah," kata Billy yang lebih dulu masuk.
"Ah, kayak apaan aja, digembok mah ya digembok aja ngapain ditutupin segala," kata Devin.
Febby yang sedari tadi berada di dalam kelas pun kepo mendengar perbincangan ini, "Ada apaan sih? Ada apaan?"
"Ah, mau tau aja lu," jawab Billy santai.
"Ih, begitu siah. Ada apaan, Pin?" tanya Febby kepada Devin.
"Itu, katanya gerbang pasar ditutupin pake tripleks sampe ujung atas, jadi kita ga bisa ngeliat keadaan di pasar kayak gimana," jawab Devin.
"Hoh, kok gitu sih, Pin?" tanya Carin yang daritadi nguping, "Ngapain pake ditutupin tripleks segala? Yang penting mah kan udah digembok."
"Gatau gw ge," kata Devin, "Emang di pasar ada apaan sih sampe kita ga dibolehin ngeliat, jadi penasaran gw,"
Kemudian Joshi menambahkan, "Gerbang kuning semuanya digembok. Yang di deket perpus, di depan mading SMP, sama yang di deket kantin juga, semuanya digembok,"
"Ya itu kali tujuannya, supaya kita ga bisa keluar dan supaya apapun yang ada di luar ga bisa masuk ke sini. Seenggaknya kita aman," kata Febby.
Mereka hanya terdiam, bahkan Febby sendiri merasa ragu apakah mereka benar-benar telah aman. Sebuah suara memecah keheningan, "Seakan-akan kita disini cuma nunggu kematian," kata Gigis.
"Gis, ih elu teh ngomongnya begitu wae daritadi!" bentak Celine, "Jangan begitu atuh lu teh."
"Yaa kalo gw sih mendingan kita pergi ngelakuin sesuatu meskipun tau ujung-ujungnya bakal mati, daripada cuma diem disini nunggu kematian," kata Gigis, "Karna sama aja kan, ujung-ujungnya mati juga, tapi seenggaknya kita udah berusaha ngelakuin sesuatu,"
Kata-kata Gigis hanya disambut tatapan kosong dan keheningan dari para murid. Mungkin dalam hati, mereka setuju. Ya bisa jadi...

*****

Malam itu merupakan malam pertama para murid tidur di sekolah. Murid perempuan tidur di kelas 12 IPA, sementara para murid laki-laki menempati kelas yang tersisa. Mereka semua tidur seadanya, hanya beralas koran dan berbantal tas sekolah, keadaan ini mau tak mau harus dimaklumi seluruh murid. Kelas 12 IPA masih cukup ramai walaupun lampu telah dimatikan, sebagian besar siswi masih terbangun, masih mencoba mengirim sms, bbm, line, we chat, whatsapp, kakao talk, skype dan menelepon keluarga mereka. Namun tetap, usaha mereka tak membuahkan hasil.
Mungkin karena lelah dan putus asa, para siswi pun satu persatu tertidur. Jam sudah menunjukan pukul setengah 11 malam, sebagian besar siswi telah tertidur. Hal ini mengakibatkan kelas menjadi amat sunyi dalam gelap.
Sheryl sedari tadi belum bisa tidur, masih memikirkan nasib keluarganya. Alasan lain ia tidak bisa tidur adalah karena daritadi ia merasa mendengar suara-suara. Ia tidak yakin apakah benar ada suara atau hanya halusinasinya saja, namun makin lama ia mendengar suara itu, ia semakin yakin suara-suara tersebut nyata.
Sheryl menepuk-nepuk pundak Priscil untuk membangunkannya. Priscil bangun lalu mengusap matanya yang belekan, "Kenapa, Ryl?" tanyanya sambil menguap.
Sheryl menjawab hampir berbisik, "Cil, coba lu dengerin. Daritadi gw denger suara, gw yang salah denger atau lu juga denger?"
Sheryl dan Priscil pun diam untuk memfokuskan diri mendengar suara apapun yang ada di sana. Dan mereka mendengarnya. Meskipun samar, tetapi suara-suara itu amat jelas terdengar. Suara perpaduan antara lenguhan dan erangan, serta suara langkah kaki dan tangan yang mencakar-cakar. Suara tersebut berasal dari pasar di belakang sekolah mereka.
Bulu kuduk Priscil berdiri seketika, ia pun mulai membangunkan siswi-siswi di kelas itu. Para siswi bertanya-tanya apa yang membuat Priscil dan Sheryl membangunkan mereka di tengah malam. Setelah Priscil dan Sheryl menyuruh mereka semua untuk diam dan mendengarkan, suara erangan dan lenguhan itu semakin jelas terdengar. Para siswi mulai panik dan beberapa mulai menangis. Mereka pun  berinisiatif untuk pindah ke kelas mana pun yang masih kosong, karena siapa yang bisa tahan mencoba tidur sambil mendengarkan suara-suara yang seakan berasal dari neraka itu?
Mereka pun berpindah ke kelas 11 IPA, lalu mencoba untuk melupakan dan berpura-pura tidak pernah mendengar apa-apa. Mereka pun berusaha untuk tidur lagi karena tubuh mereka amat lelah setelah seharian menangis. Namun kenyataannya tidak ada yang benar-benar tertidur malam itu. Meskipun tubuh mereka terbaring dan mata mereka terpejam, tetapi pikiran mereka masih bangun, dipenuhi oleh berbagai hal yang membuat mereka tak dapat tidur. Mereka juga seakan masih mendengar suara-suara tadi di telinga mereka walaupun padahal suara itu sudah tak terdengar lagi. Malam itu, tak satu pun siswi kelas 12 IPA tertidur.
Seperti teman-temannya yang lain, Celine masih terbangun. Ia terus memikirkan bagaimana nasib keluarganya, bagaimana nasib ia dan teman-temannya, apa yang sebenarnya terjadi di luar sana, bagaimana caranya memutihkan kulit dan bagaimana mereka semua akan bertahan menghadapi ini. Celine tidak menemukan jawabannya, yang ia tau hanya satu, mereka semua terjebak di sekolah itu: 103 murid, 4 guru, menunggu kematian.