Hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Matahari bersinar lebih panas dari hari kemarin, namun bersembunyi dibalik gumpalan awan-awan putih. Panasnya mentari membakar lapangan sekolah itu. Dedaunan kering berterbangan terseret angin di pinggiran lapangan. Sekolah itu sepi, amat sepi, hampir tidak ada seorang pun kecuali beberapa kelompok murid yang sedang belajar siang itu.
Duduk di kelas 12 membuat murid-murid itu terpaksa tetap tinggal di sekolah dan belajar sementara murid-murid lain pulang. Jam tambahan bimbingan belajar ini memang merupakan program sekolah untuk mempersiapkan murid-murid menempuh ujian. Ada 3 kelas yang setiap harinya harus tetap tinggal di sekolah hingga pukul 3 sore untuk bimbingan belajar.
Seorang murid duduk bersandar ke dinding sambil memperhatikan gurunya yang sedang menulis sambil menjelaskan. Murid itu menguap sekali, lalu memandang ke sekeliling. Ia melihat wajah-wajah yang sudah kelelahan. Beberapa murid terlihat sedang mencatat, namun tidak sedikit yang sedang bertopang dagu sambil menahan kantuk. Sisanya sedang mengobrol, menguap, dan mengupil.
"Pengen buru-buru pulang ya, Tam?" tanya teman sebangkunya.
Gadis itu menjawab sambil tertawa kecil, "Iya, ngantuk banget gw Yul."
"Lu pikir lu aja Tam? Semuanya juga gitu kali. Udah tahan, 20 menit lagi," hibur Yuli.
Tami mendesah kemudian kepalanya berbalik menengok ketika ia mendengar ada seseorang yang memanggilnya. "Tam, ada sabun ga?" tanya Mimi yang sedari tadi memanggil Tami.
"Ada, bentar," kata Tami sambil merogoh tasnya kemudian memberikan botol kecil berisi sabun cair, "Mau ee ya lu?"
Mimi hanya tertawa kecil. Kemudian ia berjalan cepat menuju guru berkumis yang sedang menulis di papan tulis, setelah meminta ijin, Mimi pun segera meninggalkan kelas untuk menunaikan hajatnya.
Sesaat setelah Mimi keluar kelas, seorang gadis Jawa berkulit sawo matang dan berambut pendek mengacungkan tangan sembari bertanya, "Pak, itu integral sin bukannya -cos ya, Pak?"
Sang guru mengkoreksi tulisannya di papan tulis putih itu, "Oh iya maaf, ini tadi spidolnya," kata guru itu sambil tersenyum disusul tawa kecil dari beberapa murid menanggapi candaan khas guru tersebut.
Tepat sesaat setelah itu, seorang pria mendorong pintu kelas dengan cukup keras tanpa mengetuknya terlebih dulu. Pria itu berbadan besar, berkulit gelap dan berambut ikal pendek. Murid-murid mengenalinya dengan nama Pak Frans.
Wajahnya tampak panik ketika memasuki ruang kelas. Sebelum ada yang sempat bertanya, Pak Frans mendekati sang guru dengan setengah berlari kemudian membisikan sesuatu ke telinga guru itu. Senyum di wajah guru berkumis itu segera hilang, digantikan dengan tatapan kosong penuh kepanikan. Kemudian keduanya langsung meluncur meninggalkan kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan para murid kebingungan.
Selama sesaat para murid terdiam, kemudian seorang lelaki putih sipit memecahkan keheningan dengan bertanya sambil setengah berteriak, "Eh kenapa sih? Ada apaan sih?" tanya Hadi.
Seketika kelas menjadi gaduh akibat pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban. Beberapa anak terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi dan kembali mencatat. Sisanya berdiskusi tentang kemungkinan yang terjadi. Beberapa mengatakan bahwa mungkin ada salah seorang siswa yang mengalami sakit parah sehingga perlu penanganan darurat. Beberapa lagi mengatakan bahwa mungkin telah terjadi kebakaran di salah satu bagian sekolah. Bahkan ada salah seorang murid yang mengatakan bahwa mungkin saja besok libur. Tapi dari semua opini itu, mereka tidak menemukan jawaban. Hanya satu yang mereka tahu, bahwa sesuatu telah terjadi.
Para murid mendadak hening ketika terdengar teriakan dari luar kelas, "Bukan! Di dapur! Di dapur! Cepet!"
Murid-murid saling bertatapan dalam hening ketika melalui jendela pintu yang sempit terlihat Pak Frans berlari menuju dapur seperti yang diperintahkan. Setelah beberapa saat ia kemudian kembali sambil membawa sesuatu yang tampak seperti rantai di tangannya.
Seorang murid lelaki bernama Sugi memberanikan diri untuk mengintip melalui jendela pintu. Karena kurang mendapat penglihatan yang jelas, ia pun membuka pintu lalu menjulurkan kepalanya ke luar kelas.
"Sug, ada apaan, Sug?" tanya seorang murid lelaki bernama Bobby.
"Bentar-bentar," jawab Sugi sambil kepalanya masih terjulur ke luar.
Sesaat kemudian, Sugi masuk kembali ke dalam kelas dan menutup pintu. "Nih ya, gw aneh siah, tadi Pak Frans keluar dari dapur bawa gembok sama rantai, buat apaan coba?" tanya Sugi kepada teman-teman sekelasnya, "Trus dia lari-lari turun ke arah perpus sono, asaan panik banget anjir."
Kelas itu pun hening ketika mendengar penjelasan Sugi, sangat hening sampai tiba-tiba bunyi kentut menggema memenuhi kelas. Preeeeeettttt.
"Anjir, siapa yang kentut?" tanya Elia sambil menutup hidung, disusul tawa dari anak-anak sekelas.
"Si VERO ini! Si VERO!" teriak Chata sambil menunjuk-nunjuk Vero.
"Ih maap, gw kalo misalkan gugup atau tegang biasanya kentut," kata Vero.
"Lu kentut di saat yang amat tidak tepat, kampret," kata Elia sambil tertawa.
Untuk sesaat, suasana kelas menjadi cair, namun secepat itu pula suasana kembali menegang saat negara api menyerang. Maksudnya, saat terdengar langkah kaki cepat di luar kelas. Rupanya itu adalah langkah kaki sang guru berkumis. Sang guru memanggil kedua guru lainnya dari kelas IPS 1 dan 2, kemudian ketiga guru itu terlihat berkumpul sambil berdiskusi di depan UKS.
Para murid kelas IPA hanya bisa mengintip sesekali melalui jendela pintu. Mereka tidak bisa mendengar apa yang para guru bicarakan karena jarak yang cukup jauh dan pintu kelas tertutup saat itu. Namun mereka dapat melihat dari ekspresi panik para guru, bahwa mereka sedang membicarakan sesuatu yang darurat.
"Ada yang dateng! Ada yang dateng!" kata Yosafat yang mengintip paling depan. Seketika para murid lain yang mengintip segera berlari menuju tempat duduk masing-masing. Kelas hening, menanti siapapun yang akan masuk melalui pintu tersebut.
Kenop pintu berputar perlahan, kemudian pintu didorong terbuka dengan amat lambat. Bunyi derit engsel pintu menambah tegang suasana. Para murid menanti dengan tegang sambil setengah menahan nafas. Pintu pun terbuka sedikit, dikit banget, dikit pisan, amat sangat sedikit sekali, ciyus deh pintunya cuma kebuka dikit. Kemudian tiba- tiba, pintu ditutup lagi. Sesaat kemudian, pintu terbuka sedikit lagi. Kemudian ditutup lagi. Kemudian terbuka sedikit, lalu ditutup lagi. Sumpah sekali lagi lo buka-tutup pintu, gue tabok pake keyboard.
Akhirnya pintu pun terbuka, kali ini terbuka lebar. Ternyata itu adalah Mimi.
"Yeh ni anak abis ee bukannya cebok malah maenan pintu," kata Elia sambil bernafas lega.
"Dih sengaja gw teh dilama-lamain biar bisa ngedengerin guru-guru," kata Mimi.
"Hah, lu tadi ngedengerin guru-guru ngobrol, Mi? Dih, ayo ceritain apa yang lu denger," kata Hadi.
"Iya, ada apaan sih, Mi? Daritadi kita penasaran gila," kata Yuli menambahkan.
Mimi pun berjalan ke tempat duduknya di belakang kelas, ia duduk lalu mulai bercerita, "Jadi gini... Kemaren gw nelpon,"
"WOY! Itu kata-kata gue woy!" potong Arga.
"Mi, serius mi," kata Celine.
"Iya, iya. Jadi kan tadi gw ke WC mau ee. Pas gw keluar ya itu udah ada guru-guru di depan mading, ada Pak Hendra, Bu Neng, sama Mam Hot" kata Mimi menjelaskan, kemudian ia melanjutkan, "Gw ke kelas kan otomatis ngelewatin mereka ya, gw pelan-pelanin aja jalannya biar gw bisa sekalian nguping, soalnya gw liat muka mereka teh kayak panik gitu."
"Yaudah, jadi intinya lu ngedenger apaan?" tanya Hadi tidak sabar.
"Gw cuma denger Pak Hendra ngomongin sesuatu tentang kekacauan dan kerusuhan. Gw juga denger katanya Pak Hendra bahkan udah nyuruh Pak Frans buat ngerantai dan ngegembok gerbang pasar," kata Mimi menjelaskan.
"Tuh kan bener anjir pantesan dia bebawa rantai sama gembok dari dapur," sela Sugi.
"Ya tapi buat apaan coba?" tanya Elia.
"Ya buat ngegembok gerbang pasar ih elu teh tadi kan Mimi udah bilang. Tujuannya pasti karena apapun yang terjadi di luar sana, terlalu bahaya buat kita," jelas Dila.
"Lebih tepatnya, APA yang terjadi di luar sana yang terlalu bahaya buat kita?" tanya Elia lagi.
Hening sesaat, kemudian Arga menjawab, "Kalo kata gw mah tawuran. Mungkin tawuran anak-anak SMA lain dan mereka bawa senjata bahaya yang takutnya nyasar ke sekolah ini. Tau sendiri kan kalo tawuran bawa-bawa molotov, linggis, gear motor segala macem."
Semua terdiam, mau tak mau semua setuju karena hanya itulah kemungkinan masuk akal akan apa yang terjadi. Hanya Mimi yang nampaknya tidak setuju.
"Kalo menurut gw bukan itu," sanggah Mimi, kemudian ia melanjutkan, "Tadi pas di wc gw denger suara-suara. Gw pikir itu cuma halusinasi gw aja, tapi setelah tau bahwa emang bener ada sesuatu yang terjadi, gw jadi yakin suara-suara yang gw denger itu nyata."
"Lu denger apa?" tanya Dila.
Mimi mengambil nafas panjang, kemudian menghembuskannya sembari matanya menatap kosong ke arah lantai, "Teriakan. Banyak teriakan," kemudian ia melanjutkan, "Tapi ini bukan teriakan macem orang lagi tawuran. Teriakannya kayak jeritan. Jeritan yang bercampur tangisan. Jeritan yang seakan-akan mereka tau bahwa itu akan jadi jeritan terakhir mereka, seakan mereka tau itulah saat ajal menjemput mereka."
Ada keheningan panjang sebelum akhirnya seseorang berkata, "Teman-teman.. Selamat datang di permulaan dunia akhir."
